SEORANG AYAH YANG FENOMENAL?
Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (Qs. al Baqarah:128).
Sosok Nabiyullah Ibrahim As adalah sosok unik seorang ayah. Tak ada lagi yang meragukan kualitas keimanan, keshalihan dan kepemimpinannya sebagai seorang nabi, utusan Allah. Demikian pula tentunya dengan perannya sebagai ayah. Namun memang tidak mudah untuk begitu saja memahami atau mencerna konsepnya sebagai ayah dalam mendidik anaknya.
Cukup lama sudah teruji kesabaran Nabiyullah Ibrahim As dalam mendambakan keturunan. “Rabbi habli minash shalihin (Ya Allah, karuniakanlah kepadaku anak-anak yang shalih)”. Adalah lantunan doa yang diucapkannya secara konsisten dari sebelum memperoleh keturunan hingga kemudian mereka hadir dalam kehidupannya. Namun tak hanya doa, beliaupun menempa dan mentarbiyah keturunannya agar menjadi orang-orang yang shalih dan utama, walaupun terkadang tampak aneh dan tidak menusiawi cara beliau mendidik anak-anak dan keluarganya. Misalnya tak lama setelah kelahiran Ismail, putra yang sangat didambakannya, beliau malah membawa istrinya, Siti Hajar, dan putranya tersebut ke tanah tandus Hijaz (kini Saudi Arabia). Padahal hampir-hampir tak ada tanda-tanda kehidupan di negeri itu. Tak ada oase, tumbuh-tumbuhan, hewan ternak dan tentu saja tak ada manusia.
Bila kita tak melihat adanya peran Allah berupa tarbiyah ilahiyah untuk mencetak manusia-manusia Rabbani, memang tampak ganjil apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Mungkin kita yang awam akan berkomentar, “Ih, tega amat.” Bayangkan, bayi yang begitu didambakan dan didapatkan dengan susah payah, kini harus ditinggalkan bersama sang ibu di negeri tak bertuan yang kering kerontang dan sangat berbeda jauh dengan tanah subur Palestina. Tiga kali Siti Hajar bertanya, “Lima hajartana?” (Mengapa kau tinggalkan kami berdua saja di negeri tandus tak berpenghuni). Akhirnya Siti Hajar tersadarkan setelah melihat suaminya tak jua kunjung menjawab dan ia pun bertanya dengan penuh keyakinan, “Allahu amaroka bi hadza?” Ketika Nabi Ibrahim mengangguk mengiyakan tanpa menoleh lagi sedikitpun, maka semakin mantaplah keyakinan Siti Hajar. “Idzan laa yudhayyiana syaian”, (Allah tak akan menyia-nyiakan sedikitpun). Subhanallah...
Dan umat keseluruhannya menjadi saksi atas perjuangan Siti Hajar dan bayinya Ismail yang tengah ditempa oleh Allah melalui peran sebagai ibu dan anak Nabi Ibrahim As. Kesabaran Siti Hajar yang hanya berbekal sekantung kurma dan satu qirbah air akhirnya membuahkan lahirnya sebuah kota, sebuah peradaban yakni terbangunnya kota Makkah al Mukarramah. Mata air Zam-zam yang ditemukan Siti Hajar dan putranya menjadi daya tarik berdatangannya para penghuni di wilayah yang semula sangat tandus itu. Semuanya ini terabadikan dalam salah satu rukun manasik haji yang disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw yakni sa’i dari bukit Shafa ke Marwa. Hikmah yang terkandung di dalamnya, dapat kita napak tilasi dan jiwai jejak langkah perjuangan Siti Hajar berserta putranya Ismail.
Ternyata proses tarbiyah ilahiyah terhadap keluarga ini termasuk proses seorang suami dan ayah mendidik istri dan anaknya belum berhenti sampai di sini. Bahkan puncak tarbiyah itu melahirkan sebuah peristiwa monumental yang akhirnya menjadi salah satu hari raya umat Islam, yakni Idul Adha. Nabiyullah Ibrahim As seorang manusia yang sebelumnya sangat mengutamakan logika, justru dicoba oleh Allah dengan perintah-perintah yang semuanya irrasional. Setelah sekian belas tahun hingga Ismail telah menjadi seorang ghulam (anak tanggung belasan tahun) ditinggalkan hanya berdua dengan ibunya, Nabi Ibrahim kemudian malah datang dengan membawa perintah Allah yang sangat dahsyat. Allah menguji tadhiyah (pengorbanan) Nabi Ibrahim sampai ke puncaknya, ia harus menyembelih putranya sendiri yang sangat dicintainya dan yang telah ditinggalkan belasan tahun.
Namun subhanallah, sang ayah yang shalih ini menuntun dan mendidik anaknya dengan cara yang bijak agar sama-sama patuh kepada semua perintah Allah betapapun beratnya. Beliau menggunakan metode dialogis dengan seolah-olah meminta pendapat putranya, “Ya anakku, aku melihat di dalam mimpiku, aku menyembelihmu. Bagaimana menurut pendapatmu?” Kebijakan sang ayah ini pun dijawab dengan ketegasan dan kesabaran seorang anak, “Ya ayah, kerjakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk golongan orang-orang yang sabar.” Dari dialog tersebut kita melihat bagaimana seorang anak dapat memahami betapa ayahnya mendapat perintah Allah yang begitu berat. Lalu dengan segala kerendahan hatinya dan tak lupa menyebut kata insya Allah, Ismail berusaha meyakinkan ayahnya bahwa ia siap membantu ayahnya untuk mentaati perintah Allah tersebut.
Kita memang akhirnya mengetahui kisah heroik tersebut berakhir dengan happy ending. Ismail putra pertama Nabi Ibrahim As selamat dan tak cedera segorespun, sementara yang mati bersimbah darah disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah seekor domba. Tetapi yang perlu kita renungkan dan hayati adalah bagaimana konflik batin yang hebat bergolak pada diri Nabiyullah Ibrahim As. Beliau tidak tahu dan tidak diberitahu oleh Allah sebelumnya bahwa anaknya akan selamat. Yang dirasakannya saat itu, ia begitu sedih dan tidak tega terhadap Ismail, namun di sisi lain ia pun tak mau mengingkari perintah Allah seberat apapun, karena cintanya kepada Allah di atas segala-galanya termasuk di atas anaknya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya dan ia menyembil anaknya sambil memalingkan wajahnya. Darah hangat terasa mengalir di kedua belah tangannya. Tubuhnya lemas dan beliau tak berani membuka mata. Maka sungguh tak terperikan rasa syukur, bahagia dan suka cita hatinya ketika Ismail menegurnya. Dilihatnya anaknya selamat dan di sampingnya ada domba yang berlumuran darah. Allahu Akbar, betapa besar kasih sayang Allah pada hamba yang taat.
Nabiyullah Ibrahim As senantiasa melatih, mentarbiyah diri dan anaknya untuk mentaati Allah. Jadi seiring sejalan. Karena banyak para orang tua, dalam hal ini para ayah, yang merasa harus selalu mendidik dan melatih anak-anaknya tapi mereka lupa atau melupakan tugas untuk mentarbiyah diri sendiri (tarbiyah dzatiyah). Ia selalu berdoa untuk kebaikan diri dan keturunannya. Beliau juga seorang ayah yang visioner, memiliki pandangan jauh ke depan, ketika beliau memanjatkann doa yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim pun menunaikannya.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman, “Janjiku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim.” (Qs. al Baqarah:124). Jadi ketika Allah menghendakinya sebagai imam atau pemimpin umat maka ia segera berdoa meminta hal itu juga berlaku untuk keturunanya.
Allah mengabulkannya dengan syarat bila keturunan Nabi Ibrahim bukan termasuk orang-orang yang zhalim.
Setelah Allah mentakdirkan tibanya fase kebersamaan antara Nabiyullah Ibrahim As dengan putranya Ismail, maka Ibrahim As senantiasa menyertakan dalam mengerjakan tugas-tugas dari Rabbnya, misalnya saat beliau membangun Ka’bah dan seusainya berdoa agar anaknya pun terbiasa berdoa seusai mengerjakan segala sesuatu kebaikan agar amal shalih mereka diterima oleh Allah SWT. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al Baqarah:127).
Nabiyullah Ibrahim menyertakan anaknya dalam sebuah mega proyek berupa membangun Ka’bah yang nantinya akan menjadi titik sentrum tujuan peribadatan ibadah haji dan juga menjadi arah kiblat orang seluruh dunia ketika shalat. Selain itu sekaligus merupakan lambang kesatuan bahwa mereka menghadapkan orientasi hidup mereka keseluruhannya ke satu titik, ke satu dzat, yakni Allah SWT.
Namun dalam keyakinan Nabi Ibrahim, tidak cukup sekedar mendirikan bangunan fisik untuk beribadah bila tidak diisi oleh orang-orang yang shalih, maka ia pun melanjutkannya dengan doa agar diri dan keturunanya termasuk orang-orang muslim yang tunduk berserah diri pada Allah, beribadah kepadaNya dan sekaligus bertaubat kepadaNya, “Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh pada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. al Baqarah:128).
Nampak sekali masalah ketauhidan, ibadah dan taubat menjadi concern utama Nabiyullah Ibrahim dan juga nabi-nabi lainnya. Bahkan hal itulah yang menjadi wasiat utama mereka kepada keturunan mereka, “Ketika Rabbnya berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Ya’kub As. (Ibrahim berkata), ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilihkan agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan memeluk agama Islam.’” (Qs. al Baqarah:131-132).
Tanggung jawab pada kelangsungan keimanan, keislaman dan keistiqamahan anak cucu sepeninggalnya kelak, nampak pula pada diri Nabiyullah Ya’kub As. Kesadaran dan kekhawatiran tersebut dirasakan sampai pada detik-detik terakhir kehidupannya, “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan tanda-tanda maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah (nanti) sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu (Ibrahim), Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan yang Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya (muslimun).’”
Kita benar-benar harus belajar pada sosok para Nabiyullah agar dapat menjadi ayah bermutu yang memiliki perspektif dalam tugas keayahannya.
Bahkan Nabi Nuh As sekalipun yang kita ketahui gagal mengajak anaknya Kan’an untuk beriman kepada Allah dan mengikutinya untuk naik ke kapal besar yang akan menyelamatkan mereka dari murka dan adzab Allah. Ia telah memainkan peran sebagai sosok nabi dan ayah yang gigih mengajak umat dan anaknya pada keimanan. Masalah umat dan juga anaknya tidak kunjung mau beriman itu adalah persoalan hidayah yang merupakan hak mutlak Allah untuk memberikan atau tidak. Tetapi yang jelas, Nabi Nuh As telah memiliki ma’dzirah (alasan untuk berlepas diri) karena ia telah berusaha menyeru umatnya ke jalan Allah sepanjang siang dan malam. Bahkan usahanya membujuk anaknyapun ia lakukan sampai saat-saat terakhir sebelum banjir besar itu menenggelamkan anaknya. Semuanya tergambar secara dramatis di dalam al Quran:
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anaknya itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir’. Anaknya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah’. Nuh berkata, ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) yang Maya Penyayang’.
Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” Ketika musibah banjir itu dengan izin Allah telah berlalu, Nabi Nuh mencurahkan rasa sedihnya pada Allah, “Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkaulah hakim seadil-adilnya.’”
Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Sesunggunya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (Qs. Hud:42-47).
Kisah-kisah dalam al Quran benar-benar sarat dengan ibrah (pelajaran). Cuplikan kisah Nabi Nuh As memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga dan mendalam tentang ikhtiar dan perjuangan seorang ayah yang telah berusaha mendidik dan menanamkan keimanan pada anaknya dengan sekuat tenaga. Namun ia harus berhadapan dengan garis takdir bahwa Allah menganggap anaknya tidak berhak mendapatkan hidayah. Sesungguhnya hak memberikan hidayah ada pada Allah semata dan Ia Maha Tahu siapa yang berhak diberi hidayah dan mana yang tidak. Secara manusiawi, Nabi Nuh menampakkan kegigihannya untuk beruaha memasukkan anaknya ke dalam golongan orang-orang beriman yang diselamatkan Allah dari banjir dahsyat itu. Ia pun menampakkan kesedihannya itu dan mengutarakan kekecewaan serta kesedihannya itu melalui doa dan munajatnya. Tetapi terasa sekali kesedihannya itu diungkapkan dalam bahasa yang sangat rendah hati dan santun, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkaulah hakim yang seadil-adilnya”. Nabi Nuh tetap bersangka baik dan menyanjung Allah seusai mengutarakan kepedihannya tentang nasib anaknya. Demikian pula ketika ia ditegur Allah agar tidak berdoa tentang sesuatu atau seseorang yang ia tidak memiliki pengetahuan atasnya, karena Allah yang Maha Tahu. Nabi Nuh pun segera berlindung kepada Allah dari doa yang salah dan memohon ampun serta mengharapkan rahmat Allah. Jadi Nabi Nuh As juga seorang ayah yang bermutu sebagaimana halnya Nabi Ibrahim As dan Nabi Ya’kub As. Para nabi ini semuanya menggunakan metode ilahiyah dalam mendidik anak-anaknya, berdialog dengan bijak kepada mereka seraya melantunkan doa dan memanjatkan munajat kepada Allah. Jika toh ada perbedaan dalam masalah hasil, itu sepenuhnya masalah takdirullah yang berada di luar jangkauan kekuasaan mereka sebagai manusia. Dan semua kisah perjuangan para nabi yang beragam itu menjadi bagian dari kekayaan khasanah Islam.
Sudahkan kita menjadi ayah sebagaimana yang Beliau teladankan ke umatnya? Lalu apakah yang di lakukan oleh siti hajar dan sarah….atau siti khotijah sudah dilakukan kaum ibu…sebagai pendamping…?
Mudah2an….apa yang menjadi tujuan hidup kita semua, bermuara dan berorientasi serta teraplikasikan kesana.Insyaallah?Amin
By: Abu Almira Syahidah

